Latest Posts

KRISTALISASI TASAWUF AKHIRUL ZAMAN : Bagian Ke Tujuh” (terakhir), 4 (Empat) Pemahaman dan 10 (Sepuluh) Kesadaran SUFI

KRISTALISASI TASAWUF AKHIRUL ZAMAN : Bagian Ke Tujuh” (terakhir), 4 (Empat) Pemahaman dan 10 (Sepuluh) Kesadaran SUFI; In Shaa Allah untuk Kebaikan Dunia yang Membuka Pintu Syurga Akherat

Oleh : Ir. Dony Mulyana Kurnia (DMK) – Ketua Umum DPP Barisan Islam Moderat (BIMA ); dan Guru Besar Paguron Olahraga Pernafasan dan Beladiri Tenaga Dalam BIMA

keterangan : Tulisan ini Terdiri dari Tujuh Bagian

Bismillahirrahmanirrahiim

Jalan Kesembilan, Kesadaran Sufi Akhirul Zaman : “Kesadaran di atas kesadaran, Muhasabah dan introspeksi menyempurnakan delapan jalan kesadaran.

Tidak terasa akhirnya penulis bisa sampai pada penjelasan Jalan Ke Sembilan, yaitu Kesadaran di atas Kesadaran.

Kesadaran akan pentingnya Muhasabah dan Introspeksi, untuk menyempurnakan ke delapan jalan kesadaran yang harus di tempuh seorang Sufi akhirul zaman, yang bertujuan untuk hidup sebaik-baiknya di dunia, dan In Shaa Allah bisa menggapai pintu Syurga dan Ridho Allah Swt.

Sudah barangtentu sebagai manusia biasa yang tidak luput dari segala dosa, akan sangat sulit menempuh delapan jalan kesadaran secara sempurna, terlebih keimanan seorang manusia yang Wa yazidu Wa Yanfus ( Naik Turun ). Kondisi manusiawi seperti ini wajar-wajar saja, yang paling penting bagi seorang beriman walaupun banyak alfa dan kekurangan adalah berikhtiar dan berjuang terus tanpa putus asa untuk mendapatkan Rahmat Allah Swt., karena delapan jalan kesadaran Sufi Akhirul zaman ini, adalah inti dari saripati jalannya kehidupan dari manusia-manusia suci.

Dalam Muhasabah dan Introspeksi, satu persatu jalan Kesadaran tersebut harus di periksa dengan teliti, dan tentunya bakal terlihat jelas oleh diri sendiri baik buruknya perjalanan kesadaran yang di tempuh, karena orang lain hanya bisa menilai dari luar, tapi yang bisa menilai hanya kembali kepada diri sendiri dari manusia beriman tersebut. Menangkah ? atau Kalahkah ? dalam setiap pertarungan di dalam diri, antara Benar dan Salah, Baik dan Jahat, serta Indah dan Buruk, dan semua hal yang selalu bertentangan, setiap sa’at nyata, dan terlihat secara batiniah selalu bertarung dan berperang di dalam diri.

Seorang Sufi sudah barangtentu akan mengembalikan ke jalan yang benar, jika disadari sudah menyimpang dari rel-nya. Inilah Jihad fii sabillillah yang sesungguhnya, setiap hari dan setiap sa’at, seorang beriman berupaya untuk menguatkan Ruh untuk mengendalikan Jiwa yang terdiri dari tiga unsur ; nafsu, pikiran dan perasaan atau hati. Manakala jihad di dalam diri dari setiap muslim bisa mencapai kemenangan, maka otomatis tidak akan sulit untuk memenangkan perang fisik ataupun di akhirul zaman ini terkenal dengan perang pemikiran atau gawzul fikri, melawan musuh eksternal kaum muslimin, karena pribadi-pribadi kaum muslimin sudah terbentuk kekuatan dahsyat dari Sang Maha Pencipta Allah Swt. Mengapa sekarang kaum muslimin mengalami keterpurukan, karena pribadi-pribadi internalnya pun memang dalam kondisi lemah, kebanyakan hanya mementingkan kemasan daripada isi, sementara di zaman-zaman kejayaan Islam, terlihat mayoritas muslimnya tergolong Sufi dan Wara.

Demikianlah Muhasabah dan Introspeksi adalah Kesadaran di atas Kesadaran, yang harus di hidupkan, untuk mencapai kesempurnaan delapan jalan kesadaran seorang Sufi akhirul zaman. Muhasabah dan introspeksi setia setiap sa’at mendampingi ke delapan jalan kesadaran tersebut, sebagai umpan balik dalam sistem kehidupan manusia beriman dalam upaya untuk mencapai kesucian rohaninya, melalui jalan ilmu Tasawuf. Allahu Akbar

JALAN KE SEPULUH (terakhir), Kesadaran Sufi Akhirul Zaman ; _”Kesadaran akhir akan Ke-Pasrahan, Makrifat dan Tawakkal kepada Allah Swt.”

Setelah melakukan Muhasabah dan Introspeksi yang merupakan kesadaran di atas kesadaran sebagai feed back (umpan balik), terhadap penyempurnaan Delapan Jalan Kesadaran Sufi, pada akhirnya apapun yang terjadi kita Pasrahkan sepenuhnya kepada Allah Swt., inilah akhir dari segala ikhtiar seorang manusia beriman untuk menghambakan diri kepada Allah Swt., di akhiri dengan kepasrahan total, yang di sebut Tawakkal Allallah, dan tidak akan pernah bisa di sebut Tawakkal Allallah, tanpa upaya maksimal terlebih dahulu. Jadi pasti seorang manusia beriman yang menjadi Sufi, akan melakukan upaya maksimal penghambaannya kepada Yang Maha Kuasa Allah Swt., dan jalan yang di pakai, tidak ada jalan lain terkecuali jalannya orang-orang suci, yang sebelumnya pernah hidup di dunia ini, yang oleh penulis di saripatikan dengan Konsep ; Kristalisasi Tasawuf Akhirul Zaman dengan Empat Pemahaman, dan Sepuluh jalan Kesadaran. Allahu Akbar

Mudah-mudahan kita semua sebagai muslim bisa menjalankan sisa hidup kita masing-masing dengan jalan hidupnya orang-orang Suci, sehingga kita semua bisa mendapatkan Ridho Allah Swt., dan berkumpul di Syurga Allah Swt. di akherat Kelak. Aamiin YRA.

Setiap orang beriman pada setiap langkah kehidupannya di dunia harus selalu menyadari sebagai manivestasi untuk kehidupan akheratnya, dan tentu saja kepasrahan adalah akhir dari setiap upaya maksimal. Kepasrahan total itu sebetulnya di lakukan setiap hari secara simultan bersamaan dengan upaya maksimal harian, dimanakah waktu paling tepat membuat rohani kita pasrah secara total, posisi yang paling tepat waktunya adalah sebelum kita tidur, dan kepasrahan harian ini adalah Riadhoh (latihan), sebelum kita pasrah total ketika pada akhirnya di cabut nyawa oleh malaikat Izro’il, oleh karena itu seorang Sufi, manakala tidur akan membayangkan seolah-olah dirinya akan mati, membaca do’a, istighfar dan syahadat secara khusu. Jika kita bisa pasrah pada sa’at sehat? Mampukah kita pasrah pada sa’at sakit? Dan jika kita bisa pasrah pada sa’at sakit? Mampukah kita pasrah pada sa’at sakaratul mau? Astaghfirrullahal adziim, mudah-mudahan kita mampu untuk memasrahkan diri kepada Allah Swt., walaupun tidak seberat nabi Ismail a.s., yang memasrahkan lehernya untuk di sembelih oleh ayahnya Nabi Ibrahim a.s., dan Allah Swt., Maha adil bagi setiap manusia beriman yang memasrahkan dirinya kepada Allah Swt., In Shaa Allah Syurga bagiannya.

Dalam setiap perjuangan kehidupan seorang beriman, kepasrahan total akan menghasilkan pertolongan Allah Swt., yang sangat dahsyat, contoh yang sangat agung, selain Nabi Ismail yang diselamatkan Allah Swt., dan di ganti dengan Qurban seekor kambing yang di sembelih oleh Nabi Ibrahim a.s., kemudian Nabi Musa a.s manakala bersama umatnya di kejar Fir Aun beserta pasukannya, hingga ke tepi laut, dan Nabi Musa a.s, sudah tidak bisa berlari lagi, upaya apapun sudah tidak ada tempat, maka disitulah Nabi Musa a.s, terpejam pasrah total kepada Allah Swt., dan turunlah Mu’zizat Allah Swt., sehingga Nabi Musa a.s bisa membelah lautan dengan tongkatnya, untuk menyebrang lautan beserta umatnya. Allahu Akbar.

Kemudian selain itu Umat Islam tentu wajib mengingat Makrifatnya Rasullullah Muhammad saw., yang paling dahsyat manakala terjadi Isra Mi’raj sa’at turunnya perintah Shalat bagi umatnya, inilah Makrifat paling Agung hingga Rasullullah saw., bisa bertemu dengan dzat Rab-Nya. Allahu Akbar.

Tentu saja yang demikian ini tidak bisa di jangkau oleh akal pikiran, dan di luar hukum sebab akibat, inilah yang namanya Makrifat. Demikianlah prosesi Makrifat dari orang-orang suci, sunatullahnya selalu dari kepasrahan total, dan seorang beriman harus betul-betul paham bahwa makrifat atau mengenal Allah Swt., itu bukan mengenal dari dzat-Nya, karena hal ini mustahil bisa di capai. Dzat Allah Swt., adalah Laysa Kamitslihi Syai’un, artinya ; Tidak ada sesuatupun yang menyerupainya, dan Walam yakullahu Kufuwan Ahad, artinya ; Dan tidak ada bagi Allah, satupun/apapun yang setara menandingiNya. Jadi yang kita ketahui sekarang seperti Cahaya, Api, Air, Makhluk hidup, Bumi, Alam semesta beserta isinya, baik yang nyata, maupun yang gho’ib semuanya adalah dzat-dzat Ciptaannya.

Jangankan bisa mengetahui dzat Allah Swt, dzat dari ruh diri kita sendiri saja, yang paling dekat dan bersatu dengan diri, semua manusia banyak tidak tahunya, daripada tahunya. Yang sedikit itupun, mungkin baru tau sekarang manakala membaca tulisan penulis.

Kemudian Makrifat seorang manusia biasa kepada Allah Swt., itu sesungguhnya bisa di dapat dari mana? Makrifat bagi manusia biasa ada tiga jalan, yang pertama tumbuh dari keimanan tentang keberadaan-Nya, tatkala mereka melihat segala ciptaan-Nya, dan kemudian yang kedua dari perbuatan-perbuatan-Nya yang nyata di luar hukum sebab akibat yang bernama Karomah, yang bisa didapatkan oleh manusia biasa. Apa itu Karomah sudah penulis jelaskan pada bagian tulisan ini sebelumnya. Dan Makrifat dari perbuatan-perbuatan Allah Swt., tersebut biasanya terbukti tatkala seorang beriman sudah sampai pada titik nol, dalam kepasrahan total kepada Allah Swt.

Dan yang ketiga dari ilham-ilham suci yang di dapatkan melalui mimpi gho’ib ketika tidur suci, atau ilham-ilham suci ini di dapat pada sa’at khusu beribadah kepada Allah Swt. Ilham-ilham suci ini diberikan kepada manusia biasa, sementara Wahyu hanya di berikan kepada Nabi dan Rasul, kalau di ibaratkan Wahyu itu Emas, sementara ilham itu perak atau perunggu. Demikian halnya Mu’zizat dan Karomah juga sama ibarat Emas dan Perak atau Perunggu.

Dengan ketiga hal inilah, seorang Sufi, akan Makrifat, setelah melalui jalan Syare’at, Tarekat, dan Hakekatnya dan di akhiri dengan Kepasrahan Total. Prosesi inilah yang dinamakan Tawakal Alallah, atau bertawakal kepada Allah Swt. Dan tanda-tanda orang yang sudah mencapai Makrifat dan Bertawakal Alallah sudah pasti orangnya tawadhu, merendah dan low profile, sesuai dengan ilmu padi, semakin merunduk semakin berisi. Allahu Akbar.

KESIMPULAN

Alhamdullillahirrabbil Aalamiin, rasa syukur yang sangat dalam penulis panjatkan kepada Allah Swt., akhirnya dengan qudratullah, selesailah tulisan Kristalisasi Tasawuf Akhirul Zaman ini, bertepatan dengan hari kelahiran penulis sendiri, yaitu tanggal 2 Romadhon, oleh karena penulis dilahirkan pada bulan suci Romadhon, kemudian orangtua penulis dengan kasih sayangnya memberikan nama Dony, mengambil suku kata terakhir dari bulan Suci Romadhon, dengan nama panjang Mulyana, artinya lahir di bulan paling Mulia, dan Kurnia artinya Karunia dari Allah Swt.

Dalam akhir tulisan ini penulis ingin mengajak kepada semua pembaca yang budiman marilah kita semua beramar ma’ruf nahi munkar, sehingga menjadi manusia paling beruntung.

Beramar ma’ruf nahi munkar, berdasarkan kepada konsepsi Kristalisasi Tasawuf Akhirul Zaman, dengan mengikuti pola dan cara, sunah Rasullullah Muhammad saw., yang memakai tiga senjata da’wah dan jihadnya, yaitu sebagai berikut : Yang pertama, adalah Cinta dan Kasih Sayang, Yang kedua Bijaksana, Sabar, Do’a dan Shalat Khusu dan yang ketiga (terakhir) adalah Tegas dan Keras jika terpaksa harus dilakukan.

Da’wah dan Jihad fii Sabillillah dengan Siyasah yang benar menurut Sunah Rasullullah Muhammad saw., adalah penyempurna IMAN dan ISLAM bagi setiap Muslim, sehingga menjadi manusia terbaik, _Khairunas anfa uhum Linnas_; Manusia terbaik adalah manusia yang bermanfa’at bagi yang lain, dengan selalu _Watawwashouwbil Haq, watawwassouwbis-Sobri_ ; saling mewasiatkan Kebenaran dan Kesabaran.

Dengan prinsip mendorong perubahan dari dalam (batiniyah) diri masing-masing terlebih dahulu, sesuai dengan Q.S Ar-Ra’d ayat 11 : _”Sesungguhnya Allah tidak akan merubah suatu kaum, terkecuali mereka mau merubah dirinya sendiri”_. Jadi jelas sekali tahapannya, harus _thobaqan an Thobaq_, atau setahap demi setahap, berawal dari perubahan diri/batin masing-masing setiap manusia beriman, dan akhirnya mencapai Baldatun Thayibatun Wa Rabbun Ghafur, Negeri yang aman sejahtera, dan di Rahmati Allah Swt.

Akhirul kata, mudah-mudahan tulisan ini, banyak Hikmahnya, bermanfa’at dunia dan Akherat, dalam menyambut bulan Suci Ramadhan 1422 Hijriah.

Fii Barakati : Alfatihah

Aamiin YRA.

Latest Posts

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.