Latest Posts

KRISTALISASI TASAWUF AKHIRUL ZAMAN (Bagian Ke Enam) : Empat Pemahaman dan Sepuluh Kesadaran SUFI

KRISTALISASI TASAWUF AKHIRUL ZAMAN (BagianKe Enam) : Empat Pemahaman dan Sepuluh Kesadaran SUFI; In Shaa Allah untuk Kebaikan Dunia yang Membuka Pintu Syurga Akherat

oleh : Ir. Dony Mulyana Kurnia (DMK) – Ketua Umum DPP Barisan Islam Moderat (BIMA); dan Guru Besar Paguron Olahraga Pernafasan dan Beladiri Tenaga Dalam BIMA

keterangan : Tulisan ini Terdiri dari Tujuh Bagian

Bismillahirrahmanirrahiim

JALAN KE ENAM, Kesadaran Sufi Akhirul Zaman ; Kesadaran akan Ucapan-ucapan Bijaksana

Seorang Sufi dan juga Waliyullah, Sunan Rahmat r.a, atau yang di kenal dengan nama Kian Santang putra Sribaduga Siliwangi Raja Sunda Padjadjaran. Beliau muallaf penyebar agama Islam di tatar Pasundan, berjuang bersama keponakannya Sunan Gunung Jati (Walisongo) atau Syarif Hidayatullah, atas syari’at perjuangannya hingga suku Sunda 99% masuk agama Islam. Sunan Rahmat r.a berucap dalam Siloka Buhunnya ;

_Euweuh nu bisa maca Kitab, sa acan bisa maca Alam_. Artinya : Tidak ada yang bisa membaca Kitabullah (ayat kauliyah) sebelum bisa membaca alam (ayat kauniyah).

Apa yang disampaikannya ini, seiring dan sejalan dengan sejarah kehidupan para Nabi dan Rasul, sebelum di berikan Wahyu oleh Allah Swt., mereka semua merenung secara mendalam, melakukan tapa, meditasi, semedhi, menyendiri di dalam gua-gua, membaca gerak-gerik alam semesta yang merupakan ayat-ayat Kauniyah, terlebih terkait dengan membaca dirinya sendiri, yang merupakan bagian dari alam semesta/ayat2 kauniyah. Coba baca hikayat Nabi Ibrahim a.s, Nabi Musa a.s, hingga Rasullullah Muhammad saw., di dalam Al-Qur’an, semuanya sama, mereka merenungkan dan membaca ayat-ayat kauniyah di dalam gua.

Rasullullah Muhammad saw., tempat perenungannya di dalam gua hiro, selama empat puluh hari, empat puluh malam dalam setiap bulan ramadhan, di tambah sepuluh hari di bulan Syawal. Perenungan Rasullullah saw. ini, dari sejak menikah dengan Siti Hadijah r.a dalam usia 25 tahun, hingga beliau di angkat nabi dan Rasul oleh Allah Swt., dalam usia 40 tahun, berarti hidup Rasullullah saw., selama lima belas tahun adalah masa perenungan terhadap ayat-ayat kauniyah. Inilah sirah nabawiyah sebelum turunnya wahyu dari Allah Swt. kepada Rasullullah saw., yang jarang di bahas oleh umat Islam yang konsentrasinya hanya pada syari’at agama setelah Muhammad saw., di angkat Nabi dan Rasul, sementara para Sufi, sudah barangtentu mendalami Islam lebih dari sekedar syari’at, akan tetapi melihat prosesnya bagaimana Muhammad saw., di angkat Nabi dan Rasul, sebagai isyarat ilmu tarekat yang paling utama, untuk mencapai hakikat dan ma’rifat, itulah empat tahapan dalam Tasawuf, ilmunya para Sufi. Sehingga para Sufi sangat paham apa yang disebut Islam ; sebagai Dienullah (agama Allah) dan apa yang di sebut Islam ; sebagai Ilmanillah (ilmu Allah). Dienullah adalah Syari’at Islam yang di gariskan Rasullullah Muhammad saw., sejak di angkat Nabi dan Rasul, sementara ilmanillah di dalam Islam itu maha luas, dan meluas kepada sirah nabawiyah Rasullullah Muhammad saw., sebelum di angkat Nabi dan Rasul, bahkan ilmu-ilmu para Nabi dan Rasul lainnya, yang ada di di dalam Al-Qur’anul Karim.

Setelah Rasullullah saw., mampu membaca dengan benar ayat-ayat kauniyah ini, barulah turun Wahyu dari Allah Swt. melalui Malaikat Jibril Ruhul Qudus. Semua manusia suci akhirul zaman, perlu mengikuti jejak para para Nabi dan Rasul, terutama untuk merenungkan keberadaan dirinya sendiri, tentu tempatnya tidak usah di Gua-gua, cukup di kamar masing-masing, atau mushola dan mesjid, yang terbaik adalah beritikaf, sepuluh hari terakhir pada bulan suci Ramadhan yang disyari’atkan oleh Rasullullah Muhammad saw., dan setelah memahami ayat-ayat kauniyah, terutama keberadaan diri sendiri, yang terdiri dari Rohani yang menempati Jasmani, dan kemudian memahami bahwa Rohani itu terdiri dari Ruh dan Jiwa, dan paham bahwa Jiwa terdiri dari tiga unsur, yaitu Nafsu, Pikiran dan Perasaan atau Hati, lebih mendalam lagi kemudian memahami gerak gerik Rohani tersebut beserta dzat-dzatnya. Dzatnya Ruh adalah Cahaya, dzatnya nafsu adalah api, dzatnya pikiran adalah sambarani bumi atau gelombang magnet, dan dzatnya perasaan atau hati adalah air. Barulah seorang suci dan beriman ini paham bahwa semua itu di ikat oleh dzat angin dan udara, melalui pernafasannya. Begitu lengkapnya dzat-dzat yang membentuk diri manusia. Allahu Akbar.

Dari dzat pengikat udara dan angin melalui ritme nafas inilah, maka terjadi harmonisasi diri seorang manusia beriman, melalui petunjuk (hudan) ayat-ayat Kauliyah, yang sangat indah jika di baca dan dilantunkan yang bernama Kitabullah atau Kitab Suci. Dan bagi Umat Islam, kitabnya adalah Al-Qur’anul Karim, kitab suci terakhir yang diturunkan di dunia ini, penyempurna dari kitab-kitab suci sebelumnya.

Mengapa ayat-ayat Kauliyah di katagorikan dzat pengikat yang merupakan udara dan angin, karena gelombang suara seorang manusia, sudah barangtentu berasal dari udara dan angin, melalui proses longitudinal pita suara.

Harmonisasi kehidupan diri seorang manusia terjadi, manakala memahami ayat-ayat kauniyah kemudian di sempurnakan dengan membaca ayat-ayat Kauliyah Kitab Suci Al-Qur’anul Karim, yang di lantunkan secara indah dengan tajwid yang benar, langgam seni baca murotal, hingga seni baca Qiro’at dengan lengkingan suara yang kuat luar biasa. *Allahu Akbar.*

Dengan ayat-ayat Al-Qur’an inilah diri seorang manusia beriman, memiliki petunjuk dan barometer untuk mengendalikan dirinya agar tercapai Fitrah Penciptaan dirinya oleh Allah Swt., yang hakikatnya untuk mencapai Nafsu Mutmainah atau Jiwa yang tenang. Dengan kesadaran keberadaan Ruh sebagai pengendali Jiwa, yang harus terus-menerus secara simultan di perkuat dan diharmonisasi oleh ayat-ayat Al-Qur’anul Karim.

Maka dengan tercapainya Nafsu Mutmainah (jiwa yang tenang) secara Ruhiyah Ilahiyah Alamiyah, terjadilah harmonisasi antara kesadaran pemahaman terhadap ayat-ayat Kauniyah dan ayat-ayat Kauliyah Al-Qur’anul Karim. Kemudian dari proses luar biasa ini, maka secara otomatis lahirlah _*Ucapan-ucapan Bijaksana*_ dari seorang manusia suci beriman.

Ucapan-ucapan Bijaksana itulah yang punya bobot yang mendalam, atau bahasa Al-Qur’annya di sebut “Qoulan Sadida”. Dan Bijaksana itu meliputi tiga unsur; Kebenaran, Kebaikan dan Keindahan.

Dan sudah barangtentu ucapan-ucapan paling bijaksana adalah ucapan-ucapan yang berasal dari Kitab Suci Al-Qur’anul Karim. Adapun hadist adalah penjelasan dan tafsir dari Al-Qur’an, jadi sesungguhnya tidak boleh hadist itu berdiri sendirian, karena hakekatnya hadist-hadist itu adalah untuk menjelaskan isi dari Al-Qur’an secara lebih mendalam, dan jika masih belum cukup dari hadist-hadist bisa di tambah penjelasan-penjelasan dari para Sahabat, Waliyullah, Sufi, Ulama dan orang-orang berilmu. Demikianlah betapa luasnya Al-Qur’anul Karim, yang merupakan ayat kauliyah, seluas ayat kauniyah Alam Semesta Yang di Ciptakan Allah Swt. Allahu Akbar.

Itulah ucapan-ucapan Bijaksana, sinkronisasi dan harmonisasi antara ayat-ayat kauniyah dan ayat-ayat kauliyah yang menyatu padu indah dan agung. Allahu Akbar.

*JALAN KE TUJUH, Kesadaran Sufi Akhirul Zaman ; _”Kesadaran akan Tindakan-tindakan Bijaksana”_*

Bijaksana itu akan selalu memenuhi tiga unsur; Kebenaran, Kebaikan dan Keindahan. Setelah seorang beriman menyadari akan ucapan-ucapan bijaksana, tentu saja tidak cukup sekedar ucapan, dan secara alamiyah dari ucapan-ucapan bijaksana tersebut akan tumbuh dan lahir tindakan-tindakan bijaksana.

Sebagai salah satu contoh tindakan bijaksana; jika seseorang memberikan sebagian rezekinya kepada fakir miskin, itu adalah tindakan yang benar, akan tetapi belum tentu termasuk tindakan bijaksana, jika cara memberinya di lemparkan begitu saja kepada fakir miskin. Tindakan memberinya benar, tapi cara memberinya tidak baik dan tidak indah, dan mengakibatkan fakir miskin yang di beri tersinggung hatinya merasa terhina, dan beranggapan kepada pemberi tersebut sebagai orang yang sombong, mentang-mentang kaya dan banyak uang. Jadi tindakan tersebut hanya tindakan benar, dan tidak termasuk tindakan bijaksana, karena tidak memenuhi unsur kebaikan dan keindahan. Kebenaran tanpa Kebaikan dan Keindahan menjadi kering kerontang, kerdil tanpa hikmah yang besar. Namun tindakan Bijaksana sudah barang tentu kaya dengan hikmah, dan sudah pasti dan otomatis termasuk tindakan benar. Seorang beriman yang sadar akan tindakan bijaksana, maka akan berupaya sekuat tenaga untuk bertindak bijaksana dalam setiap langkah hidupnya, dan tindakan-tindakan bijaksana inilah yang di sebut Akhlak di dalam agama Islam.

Tindakan-tindakan bijaksana ini, belum tentu harus bicara, atau berbuat dan melangkah, sangat mungkin pada situasi dan kondisi tertentu bahkan tindakan bijaksana adalah diam seribu basa, dan tidak ada langkah perbuatan apapun.

Rasullullah saw., pun berkali-kali mencontohkan dalam berbagai peristiwa pernah melakukan tindakan diam, untuk menghadapi beberapa masalah situasi kondisi yang teramat sulit, dan tindakan diamnya Rasullulah saw., termasuk katagori tindakan bijaksana. Peribahasa mengatakan di dalam sa’at-sa’at situasi dan kondisi tertentu perlu kita mengambil sikap dengan : Diam adalah Emas.

Al-Qur’an mengajarkan tindakan bijaksana ini, adalah sesuai fitrah penciptaan manusia beriman sebagai Umatan Wasaton, yang di firmankan dalam Surat Al-Baqarah 143; _Wa kadzalika ja’alnakum Umatan Wasaton, Litakunu Syuhadaa alanas, Wayakuna Rasulu alaikum Syahida._ Artinya : Dan telah aku jadikan kalian (Umat Islam) sebagai Umatan Wasaton ( Umat Siger Tengah atau Umat Moderat dan Bijaksana), agar kalian menyaksikan perbuatan-perbuatan manusia (kiri dan kanan), dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas perbuatan-perbuatan kalian.

Allahu Akbar, betapa luar biasanya mu’zizat Al-Qur’an, hingga menempatkan kata Wasaton ( pertengahan ) tepat di pertengahan surat terpanjang Al-Baqarah yang ayatnya berjumlah 286, dan jika di bagi dua maka hasilnya 143, posisi ayat tepat di tengah.

Oleh karena itu sesuai fitrahnya, Umat Islam harus menjadi Umatan Wasaton, Umat Siger Tengah, Moderat dan Bijaksana, jika ingin benar-benar di sayangi oleh Allah Swt. Karena memang hakikat penciptaan manusia, adalah mahluk pertengahan, bukan Malaikat dan bukan pula Syeitan. Terlebih muslim Indonesia, di ingatkan lagi dengan iklimnya yang pertengahan tropis, tidak panas seperti di padang pasir, dan tidak dingin seperti di kutub.

Setiap hari umat Islam, dalam membaca surat alfatihah, ketika membaca ayat Ihdinashiratal Mustaqim, hakikatnya di ingatkan akan barometer perbuatannya untuk betul-betul di jalan yang lurus, dan tentunya jalan yang lurus ini adalah jalan tengah yang bijaksana, kalau terlalu ke kiri masuk jurang, sama juga terlalu ke kanan masuk jurang. Minimal kalau tidak pas di tengah juga, masuk di jalan Kanan Tengah, atau Kiri Tengah, yang masih selamat dalam koridor tidak masuk jurang, demikianlah seorang manusia suci beriman akan berusaha sekuat tenaga di dalam setiap tindakan-tindakannya untuk menjadi Umatan Wasaton, Siger Tengah, Bijaksana dan Moderat. Allahu Akbar.

*JALAN KE DELAPAN, Kesadaran Sufi Akhirul Zaman ; _Kesadaran akan Pola Hidup Bijaksana_*

Seorang Sufi, tentu akan berupaya sekuat tenaga berjuang untuk mensucikan diri dalam ucapan dan tindakannya, melalui kesadaran jalan Tasawuf; Syari’at, Tarekat, Hakikat dan Ma’rifat. Dan kesucian itu adalah dengan ucapan dan tindakan bijaksana yang memenuhi tiga unsur; Kebenaran, Kebaikan dan Keindahan. Tentu saja ucapan dan tindakan bijaksana ini bukan hal yang ringan, untuk di jalani, perlu perjuangan berat, dan seorang beriman yang bisa mencapainya, In Shaa Allah otomatis akan mendapatkan Ridho Allah Swt., sesuai fitrah penciptaannya.

Sejumlah ucapan dan tindakan bijaksana ini, tentu akan membuat dan membentuk pola hidup bijaksana. Seorang Sufi adalah seorang calon penghuni syurga yang mampu membuat pola hidupnya di dunia dengan bijaksana.

Dan pola hidup bijaksana inilah mensyaratkan Keikhlasan, dan Kesabaran yang merupakan sikap kekuatan *Istiqamah* atau teguh pendirian dari seorang manusia beriman, di tandai dengan ibadah-ibadah mahdoh, seperti Shalat Wajib adalah pola hidup harian, dengan kontrol waktu lima kali dalam sehari; Subuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib dan Isya, bahkan kalau di tambah sunah dhuha dan tahajjud, kontrolnya menjadi tujuh kali dalam sehari. Kontrol mingguannya adalah Shalat Jum’at. Kemudian Shaum/Puasa pun menjadi pola hidup bijaksana dalam mengatur pola makan di dalam kehidupan seorang muslim, selain kontrol mingguan dengan Shaum Senin dan Kamis, bahkan bisa menjadi kontrol harian juga dengan shaum nabi Daud a.s (shaum selang sehari), kontrol bulanan shaum tiga hari tgl 13,14,15 di dalam bulan Islam (Qamariyah) hingga kontrol tahunan dengan shaum wajib satu bulan penuh pada bulan suci Ramadhan. Allahu Akbar.

Belum lagi Zakat, Infak dan Shadaqah pola hidup bijaksana sebagai makhluk sosial seorang beriman di tengah masyarakat, dan ibadah Haji dan Umrah yang Agung, ibadah yang merupakan simbol dari kesucian yang sempurna. Sangat luar biasa sekali pola hidup bijaksana dari seorang manusia beriman, dan semua itu di syari’atkan sebagai dienullah di dalam Islam oleh Allah Swt., melalui Rasullullah Muhammad saw.

Kemudian khusus bil khusus pola hidup seorang Sufi yang meluas kepada Islam sebagai Ilmanillah (ilmu Allah), tentu saja akan lebih memperkuat ke Islaman dan ke Imanannya, sebagai contoh; ilmu pernafasan yang sudah saya jelaskan dalam bagian tulisan sebelumnya, dan kemudian pola makan, di tinjau dari jenis-jenis makanannya.

Bisa di lihat yang dijalani para Waliyullah di Nusantara; pola makan dengan konsentrasi pada jenis makanan, dan hal seperti ini pada zaman sekarang termasuk ilmu kesehatan dengan istilah die-eat, yang selalu di anjurkan oleh para dokter untuk menghadapi berbagai penyakit. Ternyata pola makan para Waliyullah yang di kenal dengan Ngawali yang terdiri dari lima pola jenis makanan ; Mutih, Mucuk, Ngabeuti, Ngalong dan Ngamacan adalah pola hidup bijaksana yang sangat sehat sesuai dengan die-eatnya ilmu kesehatan modern, dan ilmanillah dengan konsentrasi jenis-jenis makanan tertentu ini, ternyata ada di dalam Al-Qur’an, manakala Umat Nabi Musa a.s di syari’atkan hanya makan dua jenis makanan saja yaitu cuma Mana dan Salwa, yang tertulis di dalam Surah Al-Baqarah ayat 57 :

_”Dan Kami naungi kamu dengan awan, dan Kami turunkan kepadamu *”Manna” dan “Salwa”.* Makanlah dari makanan yang baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu.”_

Terkait tafsir mana dan salwa di dalam Al-Qur’an ini, banyak tafsir, ada yang menafsirkan mana dan salwa ini adalah kurma dengan Air putih, seperti yang dilakukan Rasullullullah saw., ketika bertahanut (mensucikan diri) di Gua Hiro, yang hanya berbekal segenggam Kurma dan Satu Kendi air putih, untuk bekal makan minum selama empat puluh hari, empat puluh malam. Allahu Akbar, betapa beratnya thahanut Rasullullah saw. ini, berarti per harinya Rasullullah saw., hanya makan satu dua butir kurma dan seteguk air, agar cukup untuk empat puluh hari, empat puluh malam.

Dan ternyata ngawali pun adalah ilmanillah (ilmu Allah) di dalam Islam, yang merupakan tafsir dari dua jenis makanan Mana dan Salwa, yang tersebut di dalam Al-Qur’an; semuanya dua jenis makanan dan minuman; yang kesatu Mutih : Nasi dan Air putih, yang kedua Mucuk : Pucuk-pucukan (daun2nan) dan air putih, yang ke tiga Ngabeuti : Beubeutian (umbi2an) dan air putih, yang ke empat Ngalong : Buah-buahan dan air putih, dan yang kelima Ngamacan : Daging-dagingan dan air putih, inilah die-eat nya para Sufi, yang sudah barangtentu pola jenis makanan dan minuman itu adalah pola hidup bijaksana, yang sehat menyehatkan, untuk menghadapi berbagai penyakit. Ngawali ini di lakukan dalam tempo dan jumlah hari tertentu sesuai kebutuhan, dan hasilnya selain untuk kesehatan tubuh, sudah barangtentu bisa memperkuat kendali terhadap jiwa seorang manusia beriman, yang ingin menjadi Sufi.

Banyak sekali pola hidup bijaksana, yang dijalankan dan disadari oleh manusia beriman, yang tumbuh alamiyah ilahiyah berdasarkan dienullah dan ilmanillah.

Jika pola hidup bijaksana ini hidup, maka otomatis seorang beriman tersebut menjadi orang yang Ikhlash, Sabar dan Istiqamah, yang termasuk kepada golongan hamba-hamba dan para Kekasih Allah Swt.

Kemudian pola hidup bijaksana ini adalah berkaitan dengan amanah hidup manusia sebagai Khalifah fil Ardh, atau Pemimpin/pemelihara di muka Bumi, dalam fungsi ini sudah barangtentu manusia beriman harus mempunyai kesehatan dan kekuatan, karena bagaimana bisa memelihara bumi dengan seribu satu urusannya, jika dirinya sendiri lemah dan sakit-sakitan, oleh karena itu dengan amanah sebagai khalifah fil ardh inilah maka seorang manusia beriman wajib berolahraga sesuai dengan olahraga kesukaannya masing-masing. Isyarat pentingnya olahraga ini terlihat dari ibadah Mahdoh Haji, dengan lari-lari kecil dalam ibadah sa’i, dan jalan cepat dalam ibadah tawaf. Terlihat sekali betapa ibadah haji syarat degan kekuatan fisik seorang manusia beriman, lari-lari kecil dan jalan cepat dengan do’a dan mengingat Allah Swt. Isyarat ini adalah benang merah bagi seorang Sufi, untuk berdzikir dan berdo’a itu bukan sekedar dalam posisi diam dan duduk, tapi ketika berolahraga juga bisa dipakai sarana untuk selalu mengingat Allah Swt., karena hakikatnya seorang manusia beriman itu akan selalu mengingat Allah Swt. dalam setiap kondisi, duduk, berdiri ataupun berbaring.

Sunan Rahmat r.a (Kian Santang) berucap dalam Siloka Buhunnya : _Unggal poe Kula Latihan tepi jibrug ngoprot kesang_, artinya : Setiap hari aku latihan, hingga basah kuyup dengan keringat. Allahu Akbar apa yang dilakukan Sunan Rahmat r.a ini, sangat sesuai dengan ilmu kesehatan di dalam menjaga stabilitas metabolisme tubuh.

Kemudian peninggalan lainnya dari ilmu tarekat Sunan Rahmat r.a, adalah ilmu kelenturan tubuh, yang beliau namakan jurus-jurus Mahdi, detail ilmunya sudah penulis buatkan video youtubenya, tinggal di lihat dan dipelajari. Luar biasa sekali Sunan Rahmat r.a, sudah mewariskan ilmu yang sangat berharga kepada keturunan dan murid-muridnya dengan pemahaman bahwa Mahdi ini adalah sistem kebenaran untuk melawan sistem kebatilan yang bernama Dajal. Sunan Rahmat r.a walaupun banyak sekali Karomahnya, tidak pernah ngaku-ngaku jadi Imam Mahdi, tapi beliau sangat luar biasa dengan memahami bahwa Mahdi itu adalah sistem kebenaran hakiki di akhir zaman, dan beliau sematkan sebagai nama dari jurus-jurus kanuragan kelenturan tubuh yang sangat di butuhkan bagi semua manusia beriman yang ingin jadi seorang Sufi.

Di Kabupaten Bandung, Kecamatan Paseh, ada air terjun bernama Curug Mahdi, disitulah tempat berlatih dari Sunan Rahmat r.a., atau Kian Santang, untuk berlatih jurus-jurus Mahdi. Konon tempat latihannya di atas batu ceper yang terletak di sebelah air terjun, dan kemudian setelah latihan, kesukaan dari Sunan Rahmat r.a, adalah melantunkan adzan di bawah terpaan air terjun, sekalian beliau berwudlu untuk melaksanakan ibadah Shalat. Allahu Akbar. Untuk mempelajari secara detail ilmu kelenturan tubuh dengan jurus-jurus Mahdi itu, penulis sudah mulai membuat video youtubenya, bagian demi bagian dan tinggal di pelajari.

Latest Posts

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.